Dalil Tentang Ruqyah Syar'iyyah
DALIL TENTANG RUQYAH SYAR’IYYAH
Wahai saudaraku yang
beriman. Sungguh tatkala seorang hamba Allah menjadikan al Quran sebagai obat,
maka kesembuhan itu akan ia dapatkan dengan Ridho-Nya. Kesembuhan yang
sempurna. Kesembuhan yang rasa sakit itu tidak akan kembali lagi. Kesembuhan yang
bersifat permanen. Tidak seperti kesembuhan yang didapat melalui metode
penyembuhan lainnya.
Wahai saudaraku, sampai
saat ini masih begitu banyak yang bertanya tentang hujjah atau dalil ruqyah. Ada
juga dari mereka yang menolak ruqyah sebab adanya sebuah dalil tentang larangan
meminta ruqyah. Ketahuilah wahai saudaraku, sungguh sangat banyak dalil yang
menunjukkan bahwa ruqyah itu dibolehkan. Selama tidak ada unsur kemaksiatan dan
kesyirikan didalamnya, maka ruqyah itu jelas di bolehkan. Hal ini jelas
tercantum dalam nash al Quran atau pun Hadits.
Berikut adalah dalil-dalil
tentang ruqyah :
“ Dan
Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah
mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa
asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu
adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang
tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu
kegelapan bagi mereka[1334]. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari
tempat yang jauh". (QS. Fushilat : 44)
“Dan
Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra’ : 82)
Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran
dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”(QS. Yunus : 57)
DALIL RUQYAH BERDASARKAN HADITS
Sebuah hadits yang mereka jadikan hujjah
menolak ruqyah adalah sebagai berikut :
Hadits ke : 1
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ
وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya ruqyah (mantera), tamimah (jimat) dan tiwalah
(pelet) adalah kemusyrikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Hadits ke : 2
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ” قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللّهِ؟ قَالَ: “هُمُ الّذِينَ لاَ يَكْتَوُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَعَلَى رَبّهِمْ يَتَوَكّلُونَ
Dari Imran berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,” Akan masuk surga dari umatku 70 ribu dengan tanpa hisab”. Sahabat
bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah ?” Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,” Mereka adalah orang yang tidak berobat dengan kay (besi), tidak
minta diruqyah dan mereka bertawakkal pada Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketahuilah wahai saudaraku, hadits diatas
menjelaskan tentang ruqyah yang di larang yaitu ruqyah yang bersifat
syirkiyyah. Sementara hadits ke dua diatas (tidak di minta di ruqyah) itu bukan
sebuah larangan. Dalam hal ini jika seseorang meminta di ruqyah maka ia akan
kehilangan kesempatan masuk dalam 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Pertanyaannya
sudah seyakin apakah diri kita untuk masuk surga tanpa hisab, sehingga menolak
ruqyah syar’iyyah? Padahal kita membutuhkan pengobatan atas penyakit yang
sedang di derita. Untuk memperkuat serta
meyakinkan anda semua, silahkan simak kembali hadits-hadits lainnya berikut.
Hadits ke : 3
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ
مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti)
kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an di
dalamnya), sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya
surat al-Baqarah” (HR Muslim (no. 780)
Hadits ke : 4
Dalam lafazh riwayat
at-Tirmidzi: “…Sesungguhnya syaitan tidak akan masuk ke rumah yang
dibaca di dalamnya surat al-Baqarah” HR
at-Tirmidzi (5/157), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani
Hadits ke : 5
Dari Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa
beliau mengadukan rasa sakit di badannya kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi
wasallam. Lalu beliau menyuruhnya : “Letakkanlah tanganmu di
atas tempat yang sakit dari tubuhmu,” lalu beliau mengajarkan doa :
أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ
وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
“Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan
kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan.” (HR. Muslim)
Hadits ke : 6
Ummul Mukminin
Aisyah radhiyallahu’anha berkata :
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ
عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ
أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ عَنْهُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
"Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam apabila sakit, beliau membacakan untuk dirinya al-mu’awwidzaat (bacaan-bacaan untuk memohon perlindungan kepada Allah) dan meniup dengan sedikit ludah, maka tatkala sakitnya semakin keras akulah yang membacakan untuk beliau dan aku mengusap diri beliau dengan tangan beliau sendiri karena mengharap (kepada Allah) adanya keberkahan tangan beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ke : 7
عن أبى سعيدان جبريل أتى النبى صلى الله عليه وسلم فقال: يا محمدا
شتكيت ؟ فقال نعم قال بسم الله ارقيك من كل شئ يؤذيك من شر نفس او عين حاسد
الله يشفيك بسم الله ارقي
"Dari Abi Sa’id r.a. katanya :” Jibril datang kepada Nabi SAW lalu bertanya :” Ya, Muhammad ! apakah engkau sakit ?” Jawab beliau :” Ya !” Lalu Jibril membaca membaca mantera , “Bismillahi arqiika min kulli sya-i-in yu’dziika, min syarri nafsin au ‘ainin hasidin, Allohu yasyfiika, bismillahi arqiika “ (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 2048)
Hadits ke : 8
بِاسْمِ اللهِ أَرْقِیْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ یُؤْذِیْكَ مِنْ شِرِّ
كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَیْنٍ حَاسِدٍ اللهُ یَشْفِیْكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِیْكَ
“Dengan menyebut nama Allah aku meRUQYAHmu, dari segala sesuatu yang
mengganggumu, dari kejelekan setiap jiwa, atau mata jahat dari orang yang
dengki, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan menyebut nama Allah aku
meRUQYAHmu”.( Hadits
Riwayat Muslim) .
Hadits ke : 9
عن عائشة قالت كان رسول الله صلى الله عليه و سلم أذ اشتكى منا أنسان مسحه بيمنه ثم قال : أذ هب البأس رب الناس واشف أنت الشافى, لا شفاء ألا شفاؤك شفاء لايغادر سقاما
“Dari ‘Aisyah r.a. katanya :” Apabila salah seorang diantara kami sakit,
Rasulullah SAW memegangnya dengan tangan kanan, lalu beliau ucapkan :”Adzhibil
ba’sa rabban naas, wasyfi, antasy syaafi, laa syifa-a illa syifa-uka syifaan
laa yughadiru saqooman .... (Hadits Shahih Riwayat Muslim, No. 2052)
Hadits ke : 10
عن أنس قال رجص رسول الله صلى الله عليه و سلم فى الرقية من العين
والحمة والنملة
“Dari Anas r.a. katanya :” Rasulullah SAW membolehkan memanterai penyakit karena pengaruh pandangan mata, penyakit demam, dank arena gigitan serangga.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim, No. 2058)
Hadits ke : 11
عن عوف بن مالك لاسجعى قال كان نرقى فى الجهلية فقلنا يا رسو ل الله
كيف ترى فى ذلك ؟ فقال : أعرضوا على رقاكم لا بأس بالرقى مالكم يكن فيه شرك
“Dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i r.a. katanya :” Kami biasa melakukan ruqyah pada masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah SAW., Ya, Rasulallah ! Bagaimana pendapat anda tentang Ruqyah?” Jawab beliau,” Tunjukkanlah ruqyahmu dihadapanku. Ruqyah tidak mengapa selama tidak mengandung kesyirikan.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim, No. 2063)
Hadits ke : 11
عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ
جَارِيَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ (لذيغ) وَإِنَّ نَفَرَنَا
غَيْبٌ فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ
بِرُقْيَةٍ فَرَقَاهُ فَبَرَأَ فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً وَسَقَانَا
لَبَنًا فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ
تَرْقِي قَالَ لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ قُلْنَا لَا تُحْدِثُوا
شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ
اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Said al-Khudri RA berkata, “
Ketika kami sedang dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat.
Datanglah seorang wanita dan berkata, “ Sesungguhnya pemimpin kami terkena
sengatan, sedangkan sebagian kami tengah pergi. Apakah ada di antara kalian
yang biasa meruqyah?” Maka bangunlah seorang dari kami yang tidak diragukan
kemampuannya tentang ruqyah. Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia diberi 30
ekor kambing dan kami mengambil susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami
bertanya, ”Apakah Anda bisa? Apakah Anda meruqyah?“ Ia berkata, ”Tidak, saya
tidak meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.” Kami berkata, “Jangan bicarakan
apapun kecuali setelah kita mendatangi atau bertanya pada Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam. Ketika sampai di Madinah, kami ceritakan pada nabi
shalallahu ‘alaihi wa sallam Dan beliau berkata, “ Tidakkah ada yang
memberitahunya bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing itu) dan beri saya
satu bagian.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ke : 12
Dari
Auf bin Malik al-Asyja’i berkata, ”Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyah, dan
kami bertanya, “ Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu?” Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Perlihatkan padaku ruqyah kalian.
Tidak apa-apa dengan ruqyah jika tidak mengandung kemusyrikan .” (HR Muslim)
Hadits-hadits di atas merupakan
dalil yang jelas menunjukkan kebolehan ruqyah. Tentunya yang di maksud dalam
hal ini adalah ruqyah syar’iyyah. Karenya siapa saja yang beriktiar menjemput
kesembuhan dengan al Quran, maka jika Allah Ridha, ia akan mendapatkan
kesembuhan yang sempurna.
“JANGAN PERNAH PUTUS ASA DARI
RAHMAT ALLAH”